Dari Kukerta Mahasiswa UNRI di Kelurahan Palas: Potensi Pertanian Kurang Memadai

Dari Kukerta Mahasiswa UNRI di Kelurahan Palas: Potensi Pertanian Kurang Memadai
Mahasiswa Fakultas Pertanian UNRI foto bersama dengan awak media saat Kukerta di kelurahan Palas, Selasa (5/8/2025). (foto:fin)

KLIKCERDAS.COM, PEKANBARU - Sebanyak 10 mahasiswa Universitas Riau (UNRI) melakukan Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) di Kelurahan Palas, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru. Dari kegiatan tersebut kelompok mahasiswa tersebut mengakui bahwa potensi pertanian di kelurahan tersebut kurang memadai. 

Hal itu diungkapkan Ketua Tim Kukerta UNRI, Fafa Armansyah didampingi mahasisiwi lainnya, Ananda Choirunisa dan Fiona April Yeni, Selasa (5/8/2025). Dikatakan kondisi wilayah pinggiran kota Pekanbaru yang padat penduduk tersebut menjadi penyebab tidak memadainya potensi pertanian. 

"Salah satu kendala sulitnya mengembangkan pertanian disini karena kurangnya lahan karena padatnya pemukiman warga. Meski begitu kami bersama kelompok tani "Amal Sejahtera" di RW 07, kami melakukan penanaman padi Gogo seluas 2 hektar. Dan pertumbuhannya lumayan bagus," ucap Fafa Armansyah. 

Fafa menilai untuk kelurahan Palas lebih pas peternakan, bukan pertanian. Hanya saja yang menjadi menjadi masalah adalah pakan ternak yang dipungut dari tempat sampah yang tidak digunakan. Untuk masalah ini pihaknya menyarankan agar diberikan arahan, tidak boleh mengambil pakan ternak dari sampah. 

"Kami juga sudah berinteraksi dengan warga. Mereka juga tidak terganggu dengan para peternak ini. Mereka hanya terganggu dengan aroma pakan ternak yang diambil dari sisa sisa sampah itu. Sebagian besar dari peternak ini kurang bertanggungjawab atas sampah sampah yang mereka kumpulkan untuk pakan ternak ini," ujarnya.

Fafa pun menilai, perangkat kelurahan seperti RT dan RW maupun pihak kelurahan cukup peduli dengan masyarakatnya. Mereka terus berupaya mencari solusi terkait berbagai permasalahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. 

Kembali ke soal peternakan, para peternak ini semestinya harus diarahkan menjadi peternak yang baik. Terlebih karena mereka beternak di tengah tengah pemukiman warga. Karena mereka dinilai kurang prihatin terhadap lingkungan di sekitarnya.

Ia mengatakan, kalau pun di wilayah ini ada petani tapi skalanya kecil. Mereka tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah karena tidak adanya kelompok tani. Sejauh ini baru ada 2 kelompok tani. Dan itu pun cuma 1 yang aktif.

"Jadi salah satu solusinya di kelurahan Palas ini, dengan membentuk kelompok tani baru. Karena banyak petani ubi, jagung memang skalanya tidak terlalu luas. Tapi menurut kami sudah cukup untuk mendukung ketahanan pangan di Palas ini," tukas Fafa.

Sebaliknya kata Fafa, pemerintah juga bisa mengawal para petani bagaimana memanfaatkan lahan kecil sebaik mungkin, termasuk bagaimana mengolah tanah yang kurang bagus ini untuk bercocok tanam.

Fafa pun menyimpulkan bahwa salah satu potensi pertanian di Palas ini adalah olahan kripik singkong. Cuma saja makin lama malah makin berkurang. Ia menilai warga terkendala pada bahan baku. 

"Dulu mereka biasanya mereka menanam sendiri, mereka olah sendiri singkongnya. Sekarang mereka sudah tidak punya lahan lagi. Jadi mau tidak mau mereka membeli barang dari luar untuk mengolah itu. Jadi kami lihat juga masih banyak lahan lahan yang tidak dipakai di kelurahan ini dan itu bisa dimanfaatkan untuk menanam singkong," sebut Fafa.

Kepada pemerintah, Fafa juga meminta pemerintah agar masyarakat bisa membeli pupuk subsidi. Karena warga disini hanya bisa membeli pupuk dari distributor yang pastinya harga lebih tinggi dari harga eceran. 

Sekedar diketahui, 10 mahasiswa Fakultas Pertanian UNRI melaksanakan Kukerta sejak 23 Juni hingga 12 Agustus 2025. Mereka memilih kost di Gang Mesjid Jalan Damai Palas. Selama kegiatan Kukerta di wilayah ini mereka menilai varietas warga Palas memilih hidup berkelompok. (fin)