Antropologi FISIP UNSRAT Kembangkan Model Transformasi Desa Berkelanjutan Berbasis Integrasi KKL–PPM–KKN Lintas Fakultas
Dalam pengembangan model Transformasi Desa Berkelanjutan Berbasis Integrasi KKL–PPM–KKN Lintas Fakultas, Jurusan Antropologi FISIP UNSRAT tetap memilih menggunakan istilah Kuliah Kerja Nyata (KKN) dibanding Kuliah Kerja Terpadu (KKT).
KLIKCERDAS.COM, MANADO -Jurusan Antropologi FISIP Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) mengembangkan model Transformasi Desa Berkelanjutan Berbasis Integrasi KKL–PPM–KKN Lintas Fakultas melalui kegiatan Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) bertema: Penguatan Akses Pasar, Informasi, dan Adaptasi Iklim bagi Petani Desa Makaaroyen, Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan pembelajaran lapangan berbasis data (evidence-based learning) yang diarahkan untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan desa secara berkelanjutan.
Saat ini, kegiatan masih berada pada tahap konseptual dan uji awal melalui integrasi Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dan Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM), sebagai fondasi menuju desain KKN berbasis kebutuhan riil masyarakat.
Kegiatan dilaksanakan di Desa Makaaroyen, Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, yang dikenal sebagai salah satu wilayah sentra hortikultura di Sulawesi Utara.
Mayoritas masyarakat desa menggantungkan kehidupan ekonomi pada sektor pertanian hortikultura yang saat ini menghadapi tantangan fluktuasi harga, keterbatasan akses informasi pasar, ketergantungan terhadap rantai distribusi, serta dampak perubahan iklim terhadap pola produksi pertanian.
Kegiatan berlangsung pada 7–10 Mei 2026 dan hingga saat ini masih berada pada tahap KKL dan PPM. Tahap implementasi KKN belum dilaksanakan karena masih menunggu finalisasi desain program berbasis hasil pemetaan lapangan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan akademik di lingkungan Jurusan Antropologi FISIP UNSRAT yang mendapat apresiasi dan dukungan pimpinan jurusan, yakni Ketua Jurusan Titik Mulyanto, S.Sos., M.Si., Sekretaris Jurusan Rully Mambo, S.Sos., M.Si., serta dosen-dosen Antropologi, termasuk Dr. Dra. Maria Henny Pratiknjo, M.A., Dra. Jetty Mawara, M.Hum., dan Drs. Nasrun Sandiah, M.Si.
Model konseptual transformasi desa berbasis integrasi KKL–PPM–KKN ini diprakarsai oleh Drs. Mahyudin Damis, M.Hum., dan diarahkan untuk mendorong keterlibatan dosen lintas fakultas dalam proses pembelajaran lapangan, pengumpulan data, pemetaan sosial, serta pengembangan desain program berbasis kebutuhan masyarakat.
Model ini ke depan diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi dosen lintas fakultas dalam membangun sistem pembelajaran lapangan berbasis data dan transformasi desa berkelanjutan.
Kegiatan juga melibatkan mahasiswa dan masyarakat Desa Makaaroyen, khususnya petani hortikultura, sebagai mitra utama dalam proses identifikasi masalah dan pemetaan kebutuhan desa.
Dalam pendekatan ini, desa tidak diposisikan sebagai objek kegiatan mahasiswa, melainkan sebagai mitra jangka panjang dan living laboratory dalam proses produksi pengetahuan dan transformasi sosial.
Pergeseran Paradigma Pembelajaran Lapangan
Menurut Damis, pembelajaran lapangan perguruan tinggi selama ini masih didominasi paradigma kegiatan, bukan paradigma pengetahuan.
Akibatnya, mahasiswa hadir menjalankan program, tetapi belum sepenuhnya menjadi bagian dari proses produksi pengetahuan sosial yang berkelanjutan.
Dalam model ini, mahasiswa tidak hanya hadir menjalankan program kerja, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan pengetahuan sosial, riset terapan, dan transformasi masyarakat desa.
Karena itu, kegiatan ini dilakukan sebagai respons terhadap berbagai tantangan desa pertanian sekaligus sebagai upaya mereposisi KKL, PPM, dan KKN agar tidak lagi berjalan sendiri-sendiri atau bersifat seremonial, melainkan menjadi satu siklus ilmiah yang terintegrasi, berbasis data, dan berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.
Berbeda dengan pola KKN konvensional yang umumnya bersifat temporer dan programatik, model yang dikembangkan Jurusan Antropologi FISIP UNSRAT ini menempatkan desa sebagai laboratorium sosial berkelanjutan (living laboratory).
Program tidak dimulai dari kegiatan seremonial, melainkan dari pengumpulan data, pemetaan masalah, dan penyusunan desain intervensi berbasis kebutuhan riil masyarakat.
Model ini juga dirancang untuk memutus pola intervensi episodik yang selama ini menyebabkan desa terus-menerus memulai kembali dari nol setiap kali menerima program perguruan tinggi.
Dalam model ini, Universitas Sam Ratulangi diposisikan bukan sekadar sebagai penyelenggara program pengabdian masyarakat, tetapi sebagai orkestrator yang menghubungkan pengetahuan akademik, kebutuhan masyarakat desa, riset terapan, dan keberlanjutan transformasi sosial dalam satu siklus pembelajaran yang terintegrasi.
“KKL, PPM, dan KKN bukan sekadar program, tetapi satu tarikan napas perubahan desa. Prosesnya harus dimulai dari data, dirancang secara ilmiah, lalu dieksekusi secara nyata,” ujar Mahyudin Damis.
Output Sementara Kegiatan
Hingga tahap saat ini, kegiatan telah menghasilkan: baseline data desa, pemetaan sosial dan potensi desa, identifikasi persoalan strategis masyarakat, serta desain awal intervensi lintas disiplin berbasis kebutuhan lokal.
Proses dan Mekanisme Kegiatan
Model ini dijalankan melalui satu siklus pembelajaran terpadu:
● KKL digunakan untuk membaca realitas sosial desa dan mengumpulkan baseline data lapangan terkait kondisi petani, pola pemasaran hasil pertanian, serta tantangan adaptasi iklim.
● PPM diarahkan untuk menganalisis persoalan desa sekaligus menyusun rancangan program penguatan akses pasar, informasi harga, dan strategi adaptasi iklim berbasis kebutuhan masyarakat.
● KKN dirancang sebagai tahap implementasi program berbasis evidence, hasil pemetaan sosial, dan rekomendasi lapangan. Tahap ini belum dilaksanakan dan akan dilakukan setelah desain program dinyatakan siap secara akademik dan teknis.
Saat ini, proses yang berjalan masih berada pada tahap observasi lapangan, pemetaan sosial, identifikasi masalah strategis desa, serta penyusunan desain awal program lintas fakultas (pre-KKN design).
Keberlanjutan Program dan Sistem Pengetahuan Desa
Menurut Damis, keberlanjutan program desa tidak seharusnya bergantung pada keberadaan mahasiswa semata. Mahasiswa KKN dapat berganti setiap periode, tetapi data, pemetaan sosial, dan arah pengembangan program perlu tetap berkelanjutan melalui keterlibatan dosen sebagai pusat pengetahuan (knowledge holder) dan kurator data desa.
Melalui mekanisme tersebut, setiap gelombang KKL, PPM, dan KKN tidak memulai program dari nol, melainkan melanjutkan, memperbarui, dan memperkuat basis data serta intervensi yang telah dibangun sebelumnya.
Pendekatan ini juga memungkinkan terbentuknya memori institusional desa di lingkungan universitas, sehingga data, pengalaman lapangan, dan proses pendampingan tidak berhenti pada satu periode kegiatan mahasiswa.
Damis menilai pendekatan tersebut dapat mengubah pola pengabdian kampus yang selama ini cenderung episodik menjadi sistem transformasi desa yang lebih berkelanjutan, terintegrasi, dan berbasis data.
Dengan demikian, proses pembelajaran lapangan diharapkan memiliki kesinambungan epistemik sehingga pengumpulan data, pendampingan masyarakat, dan pengembangan program tidak selalu dimulai dari nol pada setiap pergantian mahasiswa.
Integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi
Model ini juga diarahkan untuk mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu sistem pembelajaran lapangan yang utuh. Mahasiswa belajar melalui keterlibatan langsung di desa, dosen mengembangkan riset berbasis persoalan riil masyarakat, sementara pengabdian masyarakat dilakukan melalui program berbasis evidence dan kebutuhan lokal.
Sebagai perguruan tinggi negeri di kawasan Indonesia Timur, Universitas Sam Ratulangi dinilai memiliki posisi strategis dalam mengembangkan model pembelajaran desa yang kontekstual, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat kawasan timur Indonesia.
Ke depan, apabila model ini berhasil diuji dan menunjukkan dampak positif dalam beberapa tahun mendatang, pendekatan tersebut berpotensi dikembangkan lebih luas sebagai model pembelajaran desa berbasis kampus di tingkat universitas maupun nasional.
“Perguruan tinggi tidak cukup hanya hadir membawa program. Kampus harus mampu membangun sistem pengetahuan desa yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat,” tutup Mahyudin Damis.
Melalui model ini, Universitas Sam Ratulangi berupaya membangun pembelajaran lapangan yang tidak lagi bersifat seremonial dan temporer, tetapi menjadi sistem pembelajaran sosial yang hidup, kontekstual, dan berdampak nyata bagi masyarakat desa.
Dalam pengembangan model Transformasi Desa Berkelanjutan Berbasis Integrasi KKL–PPM–KKN Lintas Fakultas, Jurusan Antropologi FISIP UNSRAT tetap memilih menggunakan istilah Kuliah Kerja Nyata (KKN) dibanding Kuliah Kerja Terpadu (KKT).
Pilihan ini bukan semata persoalan terminologi, melainkan penegasan paradigma akademik dan orientasi pengabdian masyarakat.
Istilah “nyata” dalam KKN dipandang mengandung orientasi aksi yang berbasis realitas sosial, menyentuh kebutuhan riil masyarakat, dan menghasilkan dampak terukur.
Sementara itu, konsep “terpadu” dinilai telah inheren dalam desain model lintas fakultas yang dikembangkan, mulai dari tahap KKL sebagai pembacaan realitas desa, PPM sebagai proses analisis dan perancangan program, hingga KKN sebagai implementasi berbasis kebutuhan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, KKN diposisikan ulang bukan sekadar program pengabdian rutin, tetapi sebagai instrumen transformasi sosial berbasis riset, data, dan keberlanjutan pembangunan desa.
“KKL, PPM, dan KKN bukan sekadar program akademik yang berdiri sendiri. Ketiganya merupakan satu tarikan napas pembelajaran, produksi pengetahuan, dan transformasi sosial yang terhubung dalam satu siklus ilmiah yang utuh,” demikian penegasan konseptual dalam pengembangan model tersebut. (rls)



Admin



