Bukan Pemimpin "Dibalik Meja", Ini Jurus Suhardiman Amby Beresin Masalah Rakyat Kuansing
KLIKCERDAS.COM, TELUK KUANTAN - Bagi Suhardiman Amby, jadi Bupati bukan soal duduk manis di kursi empuk, tapi soal gimana caranya warga bisa berobat gratis dan ibu melahirkan nggak susah cari ambulans. Berangkat dari jiwa aktivis yang "haus" perubahan, ia kini menerjemahkan mimpi-mimpi rakyat lewat program nyata seperti Home Care hingga Jamelah.
Duet bersama wakilnya, Suhardiman Amby komitmen entaskan warga dari pra sejahtera
Tak Bisa Diam di Kantor
Karakter Suhardiman Amby memang tidak dirancang untuk sekadar menandatangani berkas di balik meja. Sejak masa kuliah di Universitas Riau hingga menjabat di DPRD Provinsi Riau selama dua periode, jiwanya adalah jiwa lapangan. Sebagai mantan tokoh reformasi 1998 dan pimpinan berbagai organisasi, ia terbiasa berhadapan langsung dengan masalah, bukan menghindari atau sekadar mendelegasikannya.
Bagi pria kelahiran Inuman, 16 Juli 1969 ini, kekuasaan hanyalah alat. Jika kekuasaan tidak digunakan untuk memotong birokrasi yang berbelit, maka kekuasaan itu sia-sia.
Inovasi "Gercep" untuk Urusan Nyawa
Suhardiman paham betul bahwa masalah paling mendasar di Kuansing adalah akses kesehatan. Lewat insting "eksekutor"-nya, ia meluncurkan jurus-jurus jitu yang kini dirasakan langsung oleh masyarakat:
UHC (Universal Health Coverage): Memastikan warga tak perlu lagi pusing memikirkan biaya RS. Cukup tunjukkan KTP, pengobatan pun jalan.
Home Care: Ia membalik logika pelayanan publik. Bukan orang sakit yang harus bersusah payah ke Puskesmas, tapi tim medis yang "jemput bola" datang ke rumah warga.
Jamelah (Jemput Antar Ibu Melahirkan): Program ini hadir sebagai solusi atas kekhawatiran ibu hamil di pelosok desa. Layanan transportasi gratis dan cepat ini memastikan keselamatan ibu dan bayi menjadi prioritas utama.
Intelektual yang Tetap "Membumi"
Meski dikenal sebagai pemimpin yang hobi turun ke lapangan (blusukan), Suhardiman tidak mengabaikan sisi akademis. Di tengah kesibukannya memimpin daerah, ia sukses menyelesaikan pendidikan Doktor (S3) di Universitas Pasundan Bandung pada tahun 2024.
Gelar ini bukan sekadar pajangan, melainkan landasan berpikir strategis dalam membangun Kuansing. Dari memperjuangkan kepastian lahan lewat Reforma Agraria, hingga mendukung penuh tradisi Pacu Jalur, ia memadukan kecerdasan akademik dengan kearifan lokal.
Bersinergi dengan unsur Forkopimda demi memperlancar roda pemerintahan
Kepemimpinan adalah Pengabdian
Perjalanan hidup Suhardiman Amby adalah bukti bahwa anak desa yang gigih bisa menjadi nakhoda bagi daerahnya. Bersama Wakil Bupati H. Muklisin untuk periode 2025–2030, ia terus tancap gas membangun infrastruktur dan konektivitas desa tanpa melupakan akar budaya.
Filosofinya sederhana namun tajam: Pemimpin yang berhasil adalah mereka yang paling banyak mendengar keluhan di pasar, di sawah, dan di tepian sungai, lalu menyelesaikannya dengan kebijakan yang nyata. (adv)



Sri Lestari



