advertorial Pemkab Kuantan Singingi

Dari Akar Rumput ke Kursi Wakil Bupati: Jejak Pengabdian H Muklisin Membangun Kuantan Singingi

Dari Akar Rumput ke Kursi Wakil Bupati: Jejak Pengabdian H Muklisin Membangun Kuantan Singingi
H Mukhlisin dari akar rumput ke kursi wakil bupati Kuansing. (Foto: Kominfoss Kuansing)

KLIKCERDAS.COM, TELUK KUANTAN - Sosoknya tidak lahir dari menara gading kekuasaan, melainkan tumbuh di antara keringat petani dan deru mesin koperasi desa. H Muklisin membuktikan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang seberapa dalam seseorang memahami denyut nadi masyarakatnya. 

Dari memimpin KUD Langgeng hingga dilantik di Istana Negara, inilah potret perjalanan pria kelahiran Lamongan yang kini menjadi tumpuan harapan warga Kuantan Singingi.

Duet pemimpin Kuansing, Bupati Suhardiman Amby dan Wakil Bupati H Mukhlisin 

Perjalanan hidup H Muklisin adalah sebuah manifesto tentang pengabdian yang tumbuh dari akar rumput. Lahir di Desa Jabung, Lamongan, pada 10 November 1977, langkah nasib membawa Muklisin merantau dan jatuh hati pada Kuantan Singingi. Di tanah ini, ia membangun mimpi, keluarga, dan karier yang sepenuhnya diabdikan bagi masyarakat kecil.

Nakhoda Ekonomi Rakyat
Sebelum dikenal sebagai pejabat publik, Muklisin adalah sosok di balik layar kemajuan ekonomi pedesaan. Selama hampir satu dekade (2015–2024), ia memimpin Koperasi Unit Desa (KUD) Langgeng. Di sana, ia bukan sekadar manajer, melainkan kawan bagi para petani. Pengalaman berinteraksi langsung dengan persoalan pupuk, harga panen, dan modal usaha membentuk karakter kepemimpinannya yang pragmatis namun penuh empati.

Matang di Legislatif, Dipercaya di Eksekutif
Dunia politik bukanlah hal baru baginya. Pada periode 2009–2014, ia telah membuktikan kapasitasnya sebagai legislator di DPRD Kuantan Singingi. Kombinasi pengalaman lapangan di koperasi dan kecakapan birokrasi di legislatif menjadikannya pasangan ideal bagi petahana Suhardiman Amby pada Pilkada 2024.

Wakil Bupati Kuansing, Mukhlisin menyerahkan lokasi pembangunan Sekolah Rakyat

Puncaknya, kepercayaan rakyat mengantarkan Muklisin ke Istana Negara. Dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada awal 2025, Muklisin kini mengemban misi besar: memastikan ekonomi desa menjadi tulang punggung pembangunan daerah.

Mendampingi Bupati Kuansing, Suhardiman Amby, Muklisin mendapat gelar baru sebagai Wakil Bupati Kuansin. Sejarah pun terukir di buku besar kehidupannya engemban amanah sebagai Wakil Bupati periode 2025–2030. 

Berbekal pengalaman satu dekade di sektor ekonomi kerakyatan dan kursi legislatif, ia kini hadir sebagai motor penggerak kesejahteraan petani di Bumi Melayu.

Sederhana dalam Keseharian
Di balik jas dinasnya, Muklisin tetaplah sosok bersahaja. Didampingi istri tercinta, Hj Nurhidayah Muniroh, ia selalu menekankan bahwa keluarga adalah jangkar moral dalam menjalankan tugas negara. Sebagai kader Partai Demokrat, ia dikenal sebagai politisi santun yang lebih banyak bekerja daripada bicara.

Kisah Muklisin adalah pengingat bahwa pemimpin besar seringkali lahir dari kerja-kerja kecil yang dilakukan dengan ketulusan besar di pelosok desa.


Perjalanan pengabdian 

Muklisin dimulai dari sektor ekonomi kerakyatan. Ia aktif di lingkungan masyarakat desa dan terlibat dalam pengelolaan koperasi, sebuah lembaga ekonomi yang menjadi penopang kehidupan para petani dan masyarakat kecil.

Kepercayaan masyarakat mengantarkannya memimpin Koperasi Unit Desa Langgeng, sebuah koperasi yang berperan penting dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di pedesaan.

Selama hampir satu dekade, dari 2015 hingga 2024, Muklisin menjabat sebagai Ketua KUD Langgeng. Di posisi ini, ia banyak berinteraksi langsung dengan petani, pelaku usaha kecil, dan masyarakat desa. Pengalaman tersebut membentuk karakter kepemimpinannya yang dikenal dekat dengan rakyat dan memahami kebutuhan ekonomi di tingkat akar rumput.

Dari perjalanan panjangnya, Muklisin menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari panggung besar. 

Terkadang, ia justru tumbuh dari kerja-kerja kecil di desa, dari mengelola koperasi, mendengarkan keluhan petani, hingga akhirnya dipercaya masyarakat untuk memimpin daerah. (adv)