Galeri Foto Disketapang Pekanbaru

Meneropong Ketahanan Pangan di Pekanbaru Lewat Aplikasi SiDIVA

Meneropong Ketahanan Pangan di Pekanbaru Lewat Aplikasi SiDIVA
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pekanbaru, Mahyuddin langsung turun ke pertanian dan memanen jagung

KLIKCERDAS.COM, PEKANBARU - SiDIVA, aplikasi digital berbasis Website yang merupakan singkatan dari Aplikasi Digital FSVA (Food Security and Vulnerability Atlas/Peta Ketahanan dan Kerawanan Pangan), diharapkan menjadi simbol kebangkitan ketahanan pangan di Kota Pekanbaru yang termutakhir. Lewat aplikasi ini, Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Ketahanan Pangan meneropong kondisi ketahanan pangan setiap wilayah hingga di tingkat kelurahan.

Galeri -  Pemaparaan tentang Aplikasi siDIVA

Berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Tahun 2022 dari 98 kota se-Indonesia, Pekanbaru mendapatkan skor Indeks Ketahanan Pangan Kota terbaik di Pulau Sumatra dengan skor 86,56 (tahan pangan).

Aplikasi ini berfungsi sebagai alat bantu elektronik bagi seluruh stakeholder untuk akselerasi program ketahanan pangan yang terintegrasi yang dapat diakses oleh siapapun secara online pada web address https://fsva-disketapangpku.com.

Fitur-fitur aplikasi yang terdapat dalam SiDIVA terdiri dari administrasi kecamatan, administrasi kelurahan, sarana prasarana, penduduk tidak sejahtera,akses transportasi,akses air bersih,tenaga kesehatan dan komposit FSVA (Food Security Vulnerability Atlas/ Peta Ketahanan dan Kerawanan Pangan).

"SiDIVA adalah sebuah aplikasi digital yang memuat Peta Ketahanan dan Kerawanan Pangan tingkat Kelurahan se-Kota Pekanbaru, dengan menampilkan geografis wilayah tahan dan rentan rawan pangan dengan dua gradasi warna yaitu merah dan hijau. Gradasi merah menunjukkan variasi tingkat kerawanan pangan dan Gradasi hijau menggambarkan kondisi yang lebih tahan pangan," kata Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kota Pekanbaru, Mahyuddin beberapa waktu lalu.

Aplikasi yang telah dilaunching pada tahun lalu di Ball Room Gedung Utama Komplek Perkantoran Tenayan Raya secara luring dan daring itu dihadiri beberapa perwakilan dari Pemerintah Kabupaten/kota lainnya di Indonesia.

Di antaranya, Pemerintah Kota Payakumbuh, Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Koto dan Pemerintah kota Solok. Tak ketinggalan perwakilan secara daring oleh DKPP Kota Kediri, DKPP Kab. Tanah Laut, Kota Probolinggo dan kota Madiun.

Aplikasi SiDIVA, kata Mahyuddin, memiliki peranan strategis dalam mengukur kinerja dan Pelayanan Pemerintah Kota Pekanbaru dalam Pembangunan Ketahanan Pangan. Keseriusan terhadap sektor pangan itu dinyatakan dalam tagline; "Pangan Berdaulat, Indonesia Sejahtera."

Atas keberhasilan melahirkan aplikasi siDIVA, banyak pihak yang memberikan respon positif kepada Disketapang Pekanbaru. Hal ini sebagai bukti Dinas Ketahanan Pangan senantiasa terus berkomitmen memperkuat pembangunan ketahanan pangan dari berbagai lini sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.

"Berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Tahun 2022 dari 98 kota se-Indonesia, Pekanbaru berada di urutan keenam dengan skor 86,56. Di Pulau Sumatra sendiri, Pekanbaru terbaik pertama ketahanan pangannya," kata Mahyuddin.

Galeri - Hamparan tanaman sayur mayur di salah satu lahan yang dikelola Kelompok Wanita Tani di Pekanbaru. Salah satu indikator ketersediaan pangan di Pekanbaru

“Alhamdulillah, walaupun secara produktivitas kita tidak punya swasembada pangan, tapi indeks ketahanan pangan kita tinggi, karena distribusi, ketersediaan selalu kita jaga,” ujarnya.

Menurut dia, pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang mesti dipenuhi, juga komoditas strategis nasional. Artinya jika suatu negara memiliki indeks ketahanan pangan yang rendah, dengan kata lain ketersediaan pangan lebih kecil daripada kebutuhan dapat menunjukkan bahwa kondisi kesejahteraan negara tersebut mengkhawatirkan. “Untuk itu, pangan jadi urusan wajib negara. Karena tanpa pangan kita tidak bisa hidup,” ujarnya.

Pergerakan harga pangan merupakan indikasi inflasi daerah. Ia ibaratkan inflasi seperti lingkarang setan.Jika angka inflasi tinggi, maka kemampuan daya beli masyarakat rendah. Hal tersebut kemudian memaksa produsen akan mengurangi produksinya.

“Pada akhirnya mengurangi tenaga kerja serta meningkatkan pengangguran, dan daya beli menurun, itulah dasar mengapa negara dalam hal ini daerah harus jaga kestabilan inflasi,” tambahnya. (Galeri)